Rolles Herwin – hanya menuliskan apa yang saya tahu

Data | Business Development | Startup | Teaching

Sunday

12

March 2017

0

COMMENTS

Darimana saya mendapatkan ide untuk Startup?

Written by , Posted in My Blog

webhomes.com

Walaupun malam sudah hampir berganti pagi, namun mata ini masih segar, ibarat toko belum mencapai target jadi pantang tutup. Akhirnya saya iseng keluyuran di depan komplek, mencari segelas kopi hangat sambil mendengarkan obrolan tukang ojek online yang masih setia menunggu panggilan pelanggannya, saya rasa mereka sedang membahas kasus “ojek online vs supir angkot”, ternyata tidak, mereka sedang membahas betapa jeniusnya ide ojek online ini, kata seorang tukang ojek, “kira-kira go-jek ini ditemukan dimana ya?”, hahaha, emangnya planet ditemukan hehehe.

Cukup sampai disini, obrolan satu jam terlalu panjang buat diposting disini…

Darimana saya mendapatkan ide untuk startup? dari problem!. Begitulah kata mentor saya dulu (sebut saja Yansen, kalau saya sebut Mawar nanti dikira korban pencabulan hahaha),  namun tampaknya jawaban seperti itu kurang memuaskan rasa penasaran audience, mengapa? karena mereka sedang dalam problemtidak bisa melihat problem“, kebanyakan calon-calon founder startup selalu bermimpi untuk memulai semuanya dari “ide brilian” mereka,  sampai disini sudah paham?

Jadi ide “problemnya” dapat dari mana dong??

 

KENALI DIRIMU

Alangkah lucunya ketika kita bermimpi untuk memberikan solusi kepada orang lain, sementara kita tidak mengenali masalahnya. memahami diri kita adalah mengenal kekuatan kita, tahu apa tujuan kita, bagaimana cara mendapatkan yang kita butuhkan dan selalu memiliki stok “semangat” yang tidak pernah habis.

 

DENGARKAN KELUHAN MEREKA, PAHAMI dan TAWARKAN SOLUSINYA

Sebuah aplikasi yang sudah bagus pun masih memiliki kemungkinan ditenggelamkan oleh new competitor, kita flashback sejenak melihat kejayaan Friendster, sebuah jejaring sosial yang trend dijamannya, namun tenggelam sejak kehadiran facebook. mengapa?  memahami orang lain adalah dengan menempatkan diri kita pada posisi orang tersebut. Seandainya saya diposisi mereka, apa yang akan saya lakukan? apa yang saya butuhkan? fitur apa yang saya inginkan?

 

JANGAN MENUNDA

Alkisah jaman dahulu terjadi sengketa antara Christopher Colombus dan Kepala Suku Indian, mereka saling klaim bahwa merekalah penemu benua Amerika, akhirnya sampailah mereka ke mahkamah internasional, kemudian sang hakim berkata “siapa yang bisa membuat telur ini berdiri, dialah penemu benua Amerika”. sang kepala suku indian mendapatkan kehormatan pertama, dia mencoba segala upaya bahkan sampai mengeluarkan asap khas indian, namun telur itu tetap tidak bisa berdiri tegak, sambil tertunduk lesu dia berkata “christopher, giliran lu bro”. dengan sedikit kelihaiannya, christopher colombus meremukkan sedikit bagian ujung telur dengan menekannya agak keras pada permukaan yang datar sehingga telur itu bisa berdiri seperti yang diharapkan sang hakim, tiba-tiba kepada suku indian itu berkata “saya juga bisa kalau cuma gitu doang”, namun sang hakim tetap pada pendiriannya, Christopher lah penemu benua Amerika. Kisah dongeng diatas mirip dengan cerita keseharian kita, diluar sana ada jutaan orang yang memiliki solusi (ide) yang sama untuk problem yang sama, tergantung siapa yang paling cepat melakukannya.

 

JANGAN TERJEBAK PADA SESUATU YANG USANG.

Dunia bergerak dengan dinamis, sangat dinamis malah. Tidak ada yang tak berubah, semua mengalami perubahan, begitu pula dengan keadaan di market. Dalam industri masa kini, pasti ada pemain besar yang pernah sukses dijamannya dan mungkin masih yang terbesar sampai saat ini, walaupun perlahan mulai ditinggalkan oleh usernya. coba pelajari kembali, startupstartup yang pernah hadir, pernah dikenal dan kemudian menghilang. Coba analisa dan lakukan improvement signifikan yang bisa melahirkan kembali (reborn) startup tersebut, menjadi lebih fresh, berwarna dan diminati banyak orang dan jangan lupa mengubah namanya, karena pelanggan selalu memesan pizza hangat walaupun resepnya sama dengan pizza dingin yang dibuat kemari sore.

 

FOKUS PADA KEBUTUHAN YANG NYATA

Seorang pencari kerja sebenarnya tidak membutuhkan website yang memposting pekerjaan/job, dia hanya ingin dipekerjakan secepat mungkin, bukan diperlihatkan betapa banyaknya lowongan pekerjaan di website tersebut. Bila anda bisa mengatasi masalah ini, maka semua situs lowongan kerja akan tutup karena tidak ada lagi yang mau menjadi penggunanya. Semua akan berpindah pada solusi yang anda tawarkan, anda berminat merekrut mereka menjadi user anda?? bila YA, mulailah memikirkan solusinya.

 

HARUS BANYAK PENGGUNANYA

Anda jomblo? itu masalah anda, coba tanyakan orang yang sudah berkeluarga atau yang sudah memiliki pasangan, apakah jomblo jadi masalah mereka? begitulah ketika kita melihat problem, haruslah menjadi problem banyak orang, why? agar solusi yang kita tawarkan banyak penggunanya dan akhirnya memberikan dampak yang besar. Bila anda berhutang IDR 100 Juta ke sebuah Bank dan tidak sanggup melunasinya, maka itu akan jadi masalah anda, namun bila hutang anda IDR 1 Triliun, maka itu akan jadi masalah bersama (bank dan anda).

 

BUATLAH SEDERHANA

Teknologi itu untuk mempermudah hidup manusia, demikian halnya solusi dari sebuah problem, harus membantu kita dalam banyak hal, semakin dipermudah dan dibuat nyaman. Hanya untuk register saja sudah susah, anda yakin orang masih akan berminat pada solusi anda? tunggu saja sampai ada yang menirunya dan membuat registrasinya menjadi sederhana, semua potensi yang sudah didepan mata tersebut, akan lenyap seketika.

 

ANDA TIDAK SENDIRIAN

Yakin startup anda tidak sama dengan orang lain? oke lah dalam aplikasi dan gameplay nya original, tapi solusinya apakah tidak mirip dengan startup lain? hanya persoalan waktu saja sampai mereka yakin untuk menambahkan fitur serupa dan “buuummm”, anda cuma kebagian serpihan ledakannya. Kenali dimana anda sedang bertempur, siapa lawan anda dan seperti apa peta kekuatan mereka, tapi ingat jangan fokus pada kekuatan lawan, fokuslah pada startup yang sedang anda buat. Saya hanya berkata “kenali lawan” bukan “mengamati lawan” apalagi “sibuk memikirkan lawan” atau “baper terhadap lawan”.

 

Ayam sudah berkokok walaupun belum sampai dua kali seperti didalam Kitab Suci, matahari akan segera terbit dari ufuk timur,  dan kasur sudah menunggu, semoga kalian mendapatkan ide dalam melihat problem, ubahlah diri kalian maka dunia akan ikut berubah. Selamat Tidur.

Monday

30

January 2017

0

COMMENTS

Mundur, Jangan Terlalu Dekat!

Written by , Posted in My Blog

Suatu malam, saya mampir disalah satu minimarket untuk mencari keripik kentang (potato chips), dan ketika sampai di lorong yang berisi aneka snack ringan, saya kesulitan untuk mencari potato chips yang saya maksud, memang dilorong itu tersedia beraneka jenis potato chips dari berbagai merek, namun saya belum berhasil menemukan merek yang saya cari.

Apa yang membuatnya menjadi demikian sulit? ternyata lorong itu begitu sempit, hanya cukup untuk lewat satu orang, sampai-sampai saya harus mencoba cara mundur dan menyerong agar memiliki sudut pandang yang lebih luas hanya demi mengintip merek demi merek mulai dari rak paling atas menuju rak paling bawah. Walaupun sulit, akhirnya saya menemukan merek yang saya cari, butuh effort dan saya hampir saja menumpahkan sebagian isi rak tersebut karena sedemikian sempit.

Hmm, contoh kecil diatas mirip dengan banyak keadaan real dikehidupan kita, merek snack yang terpajang di rak tadi ibarat rutinitas  pekerjaan kita sehari-hari yang seakan membelit, ketika ada permasalahan, kita pun sulit untuk melihatnya secara jelas, karena “jarak” kita terlalu dekat (sempitnya lorong), atau dengan kata lain kita kurang memiliki jarak/jeda/kesempatan untuk mempertimbangkannya dengan lebih jernih. Dan terkadang karena tidak sabar dan merasa tidak menemukan merek (solusi lain) yang kita cari, jadilah kita membeli merek lain (solusi sementara/pelarian) yang sebenarnya kita tidak suka, sudah tidak suka, harus bayar pula. Skor sementara 2:0

Jadi, mundurlah barang satu dua langkah dengan keluar dari rutinitas, ambil waktu untuk berpikir dengan jernih, mintalah saran dari orang-orang yang menurut kalian akan menuntun ke arah yang baik, dan dari situlah akan muncul solusi-solusi yang akan mampu mengatasi masalah yang ada dan mengembalikan potensi kita ke titik maksimal.

Masalah tidak datang untuk menghancurkan kita, namun untuk menguji dan membawa kita naik ke level selanjutnya. Bila kita lulus, masalah seperti diatas akan sangat mudah diatasi bila muncul kembali, namun jika masih terasa berat, mungkin kita belum lulus, mungkin kita perlu mundur sedikit untuk melihatnya dengan jernih dan mungkin kita harus melaluinya agar mendapatkan senjata (armor didalam dunia game) untuk menghadapi masalah (adventure) berikutnya.

 

Jadi mungkin lagu tante Syahrini sudah benar “mundur cantik, mundur cantik…mundur cantik“.

I Love Monday, Good Night.

 

 

 

 

 

 

Picture Credit : lifehacker.co.in

Saturday

7

January 2017

0

COMMENTS

Startup : Validasi Saja Tidak Cukup

Written by , Posted in Idea Projects, My Blog

Happy New Year 2017, rasanya baru kemarin saya merasakan tahun 2015, kemana hilangnya tahun 2016?

Sudahlah, tidak usah dibahas…. mari kembali ke topik tulisan pertama ditahun 2017 ini.

 

Sejak awal pertengahan 2009, istilah Startup (perusahaan rintisan) sudah mulai merambah ke indonesia, menjadi topik yang banyak diperbincangkan namun cukup sulit dicari seperti apa wujudnya. Saya belajar tentang startup pertama kali melalui Founder Institute dari silicon valley (sekitar 2010/2011).

Mulai tahun 2014, barulah startup benar-benar booming, setiap ada semintar atau event startup, hampir dipastikan penuh dengan anak-anak muda yang memiliki ambisi untuk menjadi entrepreneur, mempunyai mimpi besar untuk mengubah dunia, ingin menuangkan semua ide dan ego demi mencapai tujuan sempurna, yakni bermanfaat bagi orang banyak. Suasana diruang seminarpun tak ubahnya seperti seperti digedung dewan, riuh dan meriah dengan obrolan bagaimana membuat MPV, survey & kuesioner, validasi, iterasi, pivoting, bisnis model kanvas, customer segment, memilih mentor, venture capital, investor dan masih banyak lagi.

Namun pada prakteknya, banyak pula yang tidak menuai manfaat dari implementasi konsep-konsep tersebut, mungkin ada yang sudah pernah membuat bisnis model kanvas sampai validasi dibawah naungan venture capital, namun tetap saja tidak start, apalagi sampai up. Mungkin juga sudah ada yang pernah melakukan survei ke ratusan calon customer, namun ketika launching produk, anda dibuat keringat dingin, karena hasilnya tidak seperti yang dibayangkan didalam survei. Terkadang, survey bisa menjadi media pembohong paling mematikan, mengapa saya berkata demikian? mungkin sebagian responden merasa kasihan kalau memberikan penilaian jelek, mungkin sebagian lagi merasa tidak peduli sehingga asal menjawab, mungkin juga responden anda takut dikira bodoh dan terkesan tidak berpendidikan yang akhirnya menggiring dia untuk menjawab bagus semua (yang menunjukkan tingkat ketertarikan tinggi) atau ada juga yang sekedar beramal ketika sedang mengisi kuesioner, namanya amal kan harus yang bagus. Hasilnya, mimpi anda terbang tinggi dan dihempaskan ke bumi.

Disisi lain, tidak jarang juga ada calon customer yang mengatakan tertarik untuk membeli produk anda (ketika masih berupa prorotype), namun tak kunjung membeli ketika produk komersilnya sudah diluncurkan. mengapa?

Hal ini tidak hanya terjadi didunia startup, perusahaan dunia sebesar Coca-Cola (Coke) dan McD (Arch Deluxe) pernah gagal dalam memasarkan produknya, meskipun telah melewati serangkaian uji rasa yang ketat. Dalam validasi market, orang-orang di jalur konvensional menyebutknya dengan istilah market attractiveness, dimana lebih banyak berfokus pada pemikiran linear dan rasional dengan hipotesis bahwa kualitas, fitur, harga dan manfaat adalah hal yang paling menentukan penerimaan pasar, namun faktanya pasar lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran irasional, banyak anomali pasar yang belum bisa dijelaskan melalui teori ekonomi modern. Masih ingat game pokemon, kenapa booming beberapa waktu lalu?

Kadang pasar itu aneh dan sangat tidak rasional, namun itulah pasar adanya. lalu masih perlukah validasi? tujuan awal validasi yang diajarkan dalam paham customer development hanyalah rangkaian upaya untuk meminimalis resiko, bukan menghilangkannya.

Kesimpulannya : Anda perlu mencari The Experiencer, yakni orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional, kemampuan empati yang tinggi serta jiwa inovatif untuk membayangkan, menguji dan merancang pengalaman (experience) produk sebelum sampai ke konsumen. Why? sebelum manusia membeli/menggunakan sebuah produk, keputusannya akan dipengaruhi oleh pertimbangan irasional, jadi harus ada orang yang membangun jembatan irasional antara produk dan konsumen, kita menyebutnya Tween, cara untuk memastikan sampainya value ke tangan konsumen yang tepat melalui pengalaman yang tepat.

Monday

26

December 2016

0

COMMENTS

Jokowi Akhirnya Bersedia Turun Dari Kursinya

Written by , Posted in My Blog

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo akhirnya bersedia turun dari kursinya, hal ini dilakukan setelah banyak desakan dan teriakan yang meminta dirinya untuk segera turun, karena pesawat kepresiden sudah mendarat ditujuan dan sudah banyak warga yang ingin bersalaman dengan beliau.

Kata siapa dia gak mendengar? dia dengar kok, makanya dia segera turun dari pesawat.

Ohh salah ya? bukan itu yang kalian inginkan? ternyata kalian ingin dia mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, kalau begitu kalian salah alamat. Karena yang meminta jokowi jadi presiden adalah rakyat yang memilihnya, jadi kalau kalian ingin dia (Jokowi) mundur dari jabatannya sebagai presiden, mintalah kepada rakyat, jangan ke presiden dan jangan pula ke Wakil Rakyat (baca : DPR, MPR), karena mereka pun tidak punya hak atas kursi presiden, yang memilih adalah rakyat. Paham maksud saya sampai disini?

Saya lanjutkan ya…

Kembali soal siapa yang memilih Presiden saat ini (Baca: Joko Widodo), apakah anda termasuk salah satunya? kalau Ya, berarti anda layak bersuara demikian, mungkin anda kecewa diantara jutaan pemilih lainnya (yang belum tentu ikut kecewa dengan anda), itu normal, percayalah. namun bila anda Golput saat pemilu yang lalu, saya sarankan anda tidak usah ikutan teriak soal pemerintahan saat ini dan jangan sok peduli dengan keadaan bangsa ini, kenapa? karena anda sudah menghianati bangsa ini dengan tidak memberikan suara saat pemilu yang lalu, apakah anda terlalu sibuk untuk tidak memilih? ahh mungkin saja anda tidak peduli dengan semua itu.

Ibarat kata, suara anda sudah masuk tong sampah (baca: Tidak Mencoblos), jadi sekarang teriaklah ke tong sampah tersebut, sampaikan aspirasi anda ke tong sampah itu dan proteslah ke tong sampah tersebut. Mungkin tong itu akan menjawab dengan gema yang serupa.

Lalu kenapa sekarang anda berteriak seolah-olah anda paling peduli dengan keadaan pemerintahan saat ini? Ahh mungkin saja ini cuma drama dan sandiwara satu episode menjelang pilkada.

Sudah paham sampai disini?

Mumpung ada kesempatan lagi nih, nanti saat Pilkada serentak di awal tahun 2017, silahkan gunakan hak suara anda, pilihlah pemimpin idaman anda, pemimpin yang anda rasa bisa membawa bangsa dan daerah kita menjadi lebih baik, pilihlah pemimpin yang bersih, memiliki track record yang jelas dan bukan seorang drama queen, doakanlah mereka agar kelak mereka amanah dan bertanggung jawab, jangan cuma mau nerima amplopnya saja. Dan saya rasa, kita pun tidak perlu ikut meributkan calon pemimpin daerah lain, karena anda tidak punya suara atasnya, ini mirip dengan anda meributkan Donald Trump ketika mayoritas rakyat amerika memilihnya, setuju?

Tuhan saja memperbolehkan semua terjadi, bukan karena Dia tidur, tapi itulah yang terbaik yang kita punya saat ini.

Salam Satu Jari untuk Agus, Dua Jari untuk Ahok, Tiga Jari untuk Sandiaga, dan masih tersisa 4 jari lagi untuk  anda, gunakanlah dengan bijak.

#Pilkada #2017 #IndonesiaMemilih

 

 

Saturday

1

October 2016

0

COMMENTS

Bangun mas bro, sudah siang. Yukk Startup lagi!

Written by , Posted in My Blog

Rasanya sudah hampir 9 bulan vakum dari dunia startup, dunia yang penuh mimpi, ambisi, emosi, dan tantangan. Selama itu pula saya vakum mengajar sebagai dosen, rasanya seperti dapat cuti tahunan setahun full hahaha. Aktivitas sehari-hari saya isi dengan hobi, memulai S3, bekerja sebagai profesional dan mencari potongan puzzle yang hilang.

2 minggu yang lalu, semester baru di Binus akan segera dimulai, berhubung tidak kebagian kelas di weekend, rasanya ingin melanjutkan cuti kembali. Setelah schedule tersusun rapih sampai desember mendatang, tiba-tiba telepon berdering dan sepertinya itu bukan nomor yang asing lagi. Yuuppp, benar saja, kampus memanggil kembali, ada kelas yang “kebetulan” available di hari sabtu, hmmm pilihan yang sulit ditengah-tengah jadwal yang sudah tersusun rapih. Tetapi pada akhirnya, saya harus kembali mengajar, kampus memanggil maka harus dijawab. Bukankah itu tujuannya menjadi dosen?

Kembali ke persoalan startup, walaupun saya vakum dari semua rutinitas startup, bukan berarti saya vakum membimbing anak-anak startup. ada beberapa kelompok startup (termasuk thesis) yang tetap saya bimbing, mereka memang dibawah bendera Inkubator yang berbeda-beda, namun karena mereka yang mencari saya, ya sudahlah, ajarin saja, sharing saja, guide saja, tohh experience yang saya punya selama ini gak akan jadi duit juga kalau dipendam, mending dibagikan, siapa tau lebih banyak yang tersesat? hahaha.

Dan beberapa kali pernah bertemu dengan Investor dan Startup Founder yang sudah punya nama, mereka bertanya “kenapa saya berhenti dari dunia startup“, saya cuma jawab “saya gak berhenti, cuma lagi jalan santai saja, bernafas lebih teratur, mengamati setiap jalan yang dilewati dengan perlahan, dan mencoba menganalisa apa yang terjadi 5 tahun yang lalu ketika saya masih mendirikan startup, dimana kesalahan startupnya? kurang mentor kah? apakah investornya? jangan-jangan produknya yang busuk atau memang timnya yang harus dibongkar pasang?.

Membangun startup bukan hanya perkara ide, ambisi dan tujuan mulia agar memberikan manfaat bagi orang lain, tantangan berat selalu bersembunyi dibalik sebuah startup, disinilah emosi mulai memainkan perannya.

Ada banyak orang yang menyerah ketika membangun startup nya, mana kala rencana yang disusun tidak berjalan sesuai rencana, investor yang tak kunjung mengucurkan dana lanjutan, partner yang tak kungjung mau berkolaborasi dan client yang belum memberi kepastian kontrak kerjasama. Semua permasalahan itu tampak seperti jamur yang tumbuh dimusim penghujan.

Hal yang lebih membuat panik lagi ketika kita tahu bahwa cashflow sudah menipis, ibarat kendaraan dengan tujuan perjalanan masih panjang, bahan bakar menipis, mungkinkah sampai ke tujuan? bisa sih kalau di dorong (pake uang sendiri) tapi akan sangat lama atau bahkan bisa membunuh semua penumpangnya.

Dalam konsisi seperti itu, kadang setan juga menyamar sebagai malaikat yang berbisik dengan lembut “sudahlah, ganti saja tujuannya, tuhh lihat kendaraan sebelah masih ada yang kosong, ikut itu saja.”.

Hasilnya bisa ditebak, kebanyakan orang akan menyerah dan sedikit lainnya berusaha mencoba bangkit dengan mencari pembenaran untuk menghibur (memotivasi) dirinya. Seperti ending sebuah film boxoffice, selalu saja ada yang berhasil, yakni ketika founder dan timnya menemukan alasan kuat mengapa startup itu dibangun, alasan yang bermakna bagi seluruh tim dengan harapan akan berdampak juga bagi orang lain.

Ayolah anak muda, bangkitkan kembali ide-ide gilamu, bakar lagi emosi yang sudah mulai padam dan pacu ambisi mu melampaui batas ketidakpercayaan orang lain atas rencana gila mu, ide yang hebat itu jangan hanya disimpan disudut ruang impian kita, jangan biarkan ide itu tak disentuh, lalu berdebu, berkarat dan kemudian dilupakan. Percayalah, bukan hanya anda yang punya ide seperti itu, ada jutaan orang yang memimpikanya, namun tidak ada yang berani untuk memulainya.

Bangun…bangun dan mulailah membuatnya.

 

Note : Maaf ya, gambar dan judul tidak sinkron, namanya #September #Flag