Rolles Herwin

Data | Business Development | Startup | Teaching

Office Life Archive

Monday

23

April 2018

18

COMMENTS

Jerawat sang pemimpin

Written by , Posted in My Blog, Office Life

Beberapa waktu belakangan ini, saya lagi suka mengamati “pikiran saya sendiri”. Ternyata dia sering ngawur ya, liar tak beraturan, tak terkendali, maunya sendiri, merasa tahu tapi ternyata hanya sok tahu. Kemudian, ketika suara-suara dalam pikiran itu dicatat satu persatu, saya baru sadar ternyata tak ada makna yang bisa diungkapkan, tak enak dibaca karena tidak terstruktur.

Pikiran saya itu ternyata sering menyalahkan orang lain, menyalahkan situasi dan kondisi. Ternyata, hasilnya malah minus. Perut jadi sakit, kepala jadi pusing, jerawat merajalela. Lalu saya bertanya: ” apa enaknya berpikir demikian?” Maka saya mengajak pikiran itu diam sejenak, jangan ngawur dulu, kembali ke Nol besar.

Jadi ingat nasehat bijak orang tua dulu ” Hati-hati dengan pikiranmu, karena pikiranmu itu akan tercapai”. Pelan atau cepat akan tercapai. Nol besar akan menjadi 10, setelah melalui 1,2 3 s sampai 9. Kemudian pikiran itu saya arahkan untuk melangkah menuju 10. Dimulai dari 1 dulu, yang kecil dulu diselesaikan. Fokus.

Jadi, ketika melihat bawahan salah, saya mulai mengucap terima kasih. Karena ada bahan untuk saya pelajari, ada proses yang perlu diperbaiki. Maka, saya mencoba membantu mereka memperbaiki kesalahannya. Ternyata lebih enak ya, lebih mudah. Dan secara tidak langsung, merekapun jadi lebih mudah senyum, tidak takut untuk berbicara, belajar untuk mengambil resiko dan mengucap terimakasih.

Sambil memperbaiki proses demi proses, jerawat itupun hilang satu persatu, kini muka yang dulu kusut dan tampak jorok sudah menjadi muka yang cerah dan enak dipandang…

 

#Thanks to RamliS

Monday

19

March 2018

0

COMMENTS

Fleksibilitas Waktu Seorang Entrepreneur Startup

Written by , Posted in My Blog, Office Life

Sambil menunggu pagi berganti siang dan secangkir coklat hangat pindah ke perut…

Siapa sih yang tidak ingin fleksibilitas waktu dalam bekerja? saya pasti yang pertama angkat tangan jika ditanya soal flexi time, semua orang tentu menginginkannya. Demikian juga beberapa pemula di dunia startup (baca: usaha rintisan), tidak jarang mereka memiliki pemikiran bahwa dengan menjadi entrepreneur akan memberikan mereka opsi fleksibilitas waktu yang banyak. apakah benar begitu?

Ketika menjadi seorang entrepeneur, bukan berarti anda bisa tidur 10 jam per hari atau berlibur 3 hari dalam seminggu, rasanya tidak ada entrepeneur yang melakukan kegilaan semacam itu.

Fleksibilitas waktu seorang entrepreneur adalah bisa menentukan mau tidur jam 9 malam lalu bangun jam 1 pagi untuk melanjutkan pekerjaan yang ada, atau tidur jam 6 pagi dan bangun kembali jam 10 pagi. sama halnya dengan libur, dia bisa memilih berlibur hari senin dan bekerja fulltime diakhir pekan.

Bahkan setenar Bill Gates, Steve Jobs, Mark Z dan entrepeneur sukses dunia lainnya, mereka bekerja lebih banyak dari orang lain, mereka harus multi-tasking, ketika pegawainya sudah pulang, mereka masih memikirkan “konsep, strategi, investor, kompetitor dan pengembangan dimasa mendatang”, mereka tidak pernah pulang lebih dulu dibandingkan pegawainya.

Even Bill Gates dengan kekayaanya yang melimpah, tetap bangun pagi untuk berkativitas dan melakukan hal-hal keren lainnya, dia tidak tidur seharian loh.

Jadi fleksibilitas waktu seorang entrepeneur adalah dia bisa menggeser jam tidurnya, bisa menggeser waktu berliburnya namun bukan menambahkan porsinya.

Dan itu berlaku tidakn hanya untuk entrepeneur startup saja, bidang yang lain pun pasti sama kok. Rasa ownership pada akhirnya akan mengalahkan rasa capek dan pada akhirnya, waktu tidur singkat bukanlah kendala. Tujuan yang besar menanti mereka sebagai ganti atas pengorbanan terhadap waktu, uang dan tenaga yang sudah mereka kerahkan.

Yakin masih mau jadi entrepreneur?, kalau ragu anda kerja kantoran saja 08:00 – 17:00

Berhubung coklat hangatnya sudah habis, kita sudahi dulu sharing pagi ini…

Thursday

11

January 2018

2

COMMENTS

Cerita Telur Ayam

Written by , Posted in My Blog, Office Life

Happy New Year untuk kita semua …

semoga belum basi ya kawan, kesibukan di 2017 memaksa saya untuk cuti sebagai dosen, cuti karena baru pindah ke tempat kerja baru, industri yang baru, sibuk karena persiapan pernikahan dan sibuk karena papa yang baru saja di panggil menghadap sang Pencipta, disitulah saya bisa meresapi bahwa kesedihan/kebahagiaan, kemudahan/kesusahan itu tidak silih berganti, namun datang bersamaan, mungkin selama ini kita tidak sadar, entah kebahagiaan yang berhasil menutupi kesedihan sehingga tidak terkesan tampak atau kesusahan yang menutupi kemudahan sehingga kita selalu merasa paling “apes” didunia ini, entahlah…

Itulah intermezo kita dipagi ini kawan… kembali ke topik ya, Cerita Telur Ayam

 

Kenapa sih dengan telur ayam? kalian pasti tau dong? dan pasti pernah memakannya kan? rasanya enak dan paling praktis sebagai pengganti lauk hehehe, ketika kecil, saya lebih memilih telur ayam ceplok dibandingkan daging ayam atau daging lainnya, aneh kan? itu sih cerita nenek saya, mungkin saja dulu saya di boongin 😀 (maaf, intermezo lagi… hehehe)

Bila kalian perhatian seksama, dari gambar kedua telur tersebut tidak ada yang aneh, kecuali warnanya, satu berwarna putih dan satu lagi berwarna cream kecoklatan. Telur itu ibarat perjalanan seorang fresh graduate mencari ilmu dan mengasah kemampuannya, walaupun dipoles dengan penampilan yang berbeda, lulus dari kampus yang berbeda, namun percayalah, isinya tetap sama.

Telur itu pun ditempa oleh lingkungan tempatnya bekerja (air), kehidupan bermasyarakat (panas), teman dan relasinya (panci) maupun pengalaman yang didapat (waktu). Agar menjadi telur yang sempurna, suhu yang digunakan untuk memasak harus ideal (pas), demikian pula waktu memasaknya, harus tepat.

Bila suhunya sempurna, namun waktu memasaknya terlalu singkat, jadilah telur setengah matang, enak sih, bekerja dengan pengalaman singkat langsung diposisi tinggi, kecerdasan diatas rata-rata, banyak yang menyukai, dan terlalu bangga dengan kemampuannya sendiri, lupa merangkul dibawahnya dan cenderung berpikir “semua bisa diselesaikan”, apalah artinya membunuh seekor nyamuk menggunakan boom?.

Lalu bagaimana bila suhunya tidak sempurna, namun waktu memasaknya terlalu lama, pada akhirnya akan matang juga, mungkin rasanya saja agak aneh. Itu ibarat karyawan yang sudah memasuki usia pensiun, baru mendapatkan tingkat kematangan yang seharusnya lebih dibutuhkan dipertengahan masa karirnya. Bekerja dengan santai, tidak pernah improve skill, relasi yang sempit dan bekerja karena butuh untuk hidup, hanya belajar dari “katanya gini, katanya begitu”.

Kemudian bila suhunya tidak sempurna, waktu memasaknya singkat, inilah karyawan yang tidak bisa perform, selalu mencari alasan dan melakukan pekerjaan dengan semaunya. Saya jamin dalam 3 bulan sudah dipecat. Sudah tidak ada pengalaman, bercerita layaknya seorang expert dan hanya ingin memberi perintah, ya pastilah arahnya mengikuti kemana angin bertiup, tipikal karyawan seperti ini hanya mengandalkan keberuntungan semata.

Pada akhirnya, telur yang dimasak dengan suhu yang ideal dan waktu yang tepat, akan menghasilkan telur putih dengan kuning yang sempurna ditengahnya, karir yang ditempa dengan banyak pengalaman dalam jeda waktu yang cukup, fokus dalam menyelesaikan pekerjaan, mempunyai visi yang kuat, perkataan dan realisasi hasilnya sama, bila retak karena tekanan, dia pun tidak akan mengotori tempatnya dengan drama. Telur seperti ini, kelak (bila sudah pensiun) bisa diolah dalam bentuk yang beragam dengan tetap mempertahankan cita rasa telurnya (identitas diri).

 

Bila kalian lelah menjadi telur rebus, boleh kok jadi telur ceplok tanpa minyak atau telur dadar dengan banyak campuran…. atau bahkan kalian boleh saja bertransformasi menjadi anak ayam, semua kembali pada diri kalian, asalkan tidak menjadi telur busuk (diam ditempat yang gelap, tidak ada aktivitas dan hanya berdoa esok mendapatkan matahari, tidak ada action untuk doa tersebut, ya busuklah pastinya).

Wednesday

6

September 2017

0

COMMENTS

Generasi Milenial : Wifi saja sudah tidak cukup

Written by , Posted in My Blog, Office Life

Benarkah generasi milenial senang berpindah-pindah dalam hal pekerjaan?

Generasi milenial mempunyai teknologi yang super canggih, dalam satu sentuhan banyak hal yang bisa diselesaikan. Pengetahuan mereka melebihi karyawan yang sudah bekerja puluhan tahun, hanya dengan sekali klik, semua informasi yang dibutuhkan muncul dihadap mereka, boleh dibilang tidak ada lagi yang tersembunyi, ketika karyawan lain menyimpan semua knowledge di memori mereka, generasi milenial menyimpan semuanya di cloud, download, delete, upload, bahkan mereka tidak perlu mengingatnya.

Generasi milenial ini sangat fleksibel dan multitasking dalam banyak hal, tidak heran, banyak perusahaan besar mencari generasi ini melalui jalur MT (manajemen training) atau pun program sejenis, dengan tujuan mereka bisa di capture dan dibentuk mengikuti culture perusahaan. Dibuatlah program MT yang menarik dengan melibatkan vendor kelas dunia, namun biasanya kemesraan itu cenderung berakhir sesuai dengan epidose ala serial TV.

Negatif-nya generasi milenial adalah mereka tidak suka bekerja pada generasi X ataupun Baby Boomers yang menurut mereka menoton dan bossy. Mereka juga tidak suka pada sistem yang terlalu konvensional, mengapa? mereka dibangun dengan sentuhan teknologi canggih dengan ambisi transformasi dengan environment “vintage“. Mereka membawa bibit perubahan radikal yang sifatnya menyeluruh, mendasar dan mencakup semua elemen. Mereka cenderung susah bekerja kalau hanya mengubah sedikit hal, mereka ingin semua berubah, dilakukan dengan cepat, fleksibel dan mudah.

Dan tentu saja, untuk mencapai hal itu, bangunan yang lama harus diruntuhkan dan membuat pondasi baru dengan elemen teknologi.

Wajar bila generasi X dan Baby Boomers sulit memahami mereka dari sisi gaya bekerja, walaupun demikian, dua generasi tersebut sebenarnya sangat iri dan tetap berharap generasi milenial bisa membuat sesuatu yang lebih baik dimasa mendatang.

Tidak ada yang salah dengan generasi milenial, mereka hanya ingin menjadi bagian dari proses yang supercepat, bekerja tanpa batasan cara berpakaian, bekerja tanpa harus duduk didepan komputer dan menurut mereka absen hadir sudah cukup untuk anak sekolah, they dont need it.

Terlepas dari itu semua, Hanya cicilan bulanan dan keluarga dirumah yang membuat mereka bertahan (saat ini).

#Credit to YA

Saturday

8

July 2017

0

COMMENTS

Pujian dan Teguran dari Atasan

Written by , Posted in My Blog, Office Life

Setelah sekian lama vakum, akhirnya halaman ini terbuka kembali hehehe.

Ohh ya, sebelum lupa, saya juga ingin mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” untuk teman-teman muslim yang merayakannya, Mohon maaf lahir dan batin, kita mulai dari angka nol ya.

Kembali ke topik diatas…

Sebagai karyawan, kalian pasti pernah mendengar istilah “Penilaian Akhir Tahun”, bener gak? dimana para atasan berdialog dengan anak buahnya untuk melakukan evaluasi pencapaian setelah setahun bekerja, outputnya bisa ditebak “seberapa besar bonus yang akan dibawa pulang oleh karyawan” hehehe, tapi tenang, kita tidak membahas bonus disini, nanti menyakitkan hasilnya hahaha.

Ketika penilaian akhir tahun, atasan biasanya langsung ingat akan semua dosa-dosa dan kesalahan anak buahnya, lalu dikumpulkanlah semua list tersebut untuk diberikan ceramah panjang lebar dengan harapan “tahun depan anak buahnya akan lebih perform lagi”, itu pun kalau gak keburu dipecat. demikian halnya pujian, tapi biasanya membahas kesalahan akan mengisi 70%-80% porsi pembicaraan.

Namun, ternyata pola seperti ini salah besar, kesalahan karyawan harus langsung ditegur disaat dia melakukannya, tentunya tidak perlu pake TOA ditempat ramai, cukup dipanggil keruangan dan dibicarakan baik-baik, agar bawahan merasa “aibnya dirahasiakan” dan dia masih punya muka untuk mencoba perform lagi.

Demikian halnya dengan pujian ketika bawahan melakukan pencapaian yang dianggap “wooow” atau diatas rata-rata, harus langsung di apresiasi, tidak selalu harus dalam bentuk kenaikan gaji (walaupun disarankan hehe), bisa saja dengan ajakan makan siang khusus atau di puji ketika semua tim berkumpul atau ketika ada sesi town hall, rasanya akan sangat luar biasa. Bagaimana bila pujian itu diberikan terlambat? ibarat membahas kue Natal yang enak dibulan juni, garing dan basi, begitulah rasanya hahaha.

Kesimpulannya, memberikan pujian dan teguran oleh atasan kepada bawahannya (baca : tim/team)  haruslah dilakukan diwaktu yang tepat, jangan sampai kesalahan setahun dikumpulkan kemudian baru di evaluasi (dibicarakan) ketika penilaian akhir tahun dan karyawan baru sadar “kalau selama ini dia salah”, terkesan berguna namun tidak berdampak, ibarat orang sudah kenyang lalu di suguhi kue yang enak, mungkin dimakan tapi rasanya hanya “ouwh” atau malah bikin sakit perut.

 

Sudah malam, sekian dulu ya…

 

Rolles Herwin