Rolles Herwin

Data | Business Development | Startup | Teaching

startup Archive

Monday

19

March 2018

0

COMMENTS

Fleksibilitas Waktu Seorang Entrepreneur Startup

Written by , Posted in My Blog, Office Life

Sambil menunggu pagi berganti siang dan secangkir coklat hangat pindah ke perut…

Siapa sih yang tidak ingin fleksibilitas waktu dalam bekerja? saya pasti yang pertama angkat tangan jika ditanya soal flexi time, semua orang tentu menginginkannya. Demikian juga beberapa pemula di dunia startup (baca: usaha rintisan), tidak jarang mereka memiliki pemikiran bahwa dengan menjadi entrepreneur akan memberikan mereka opsi fleksibilitas waktu yang banyak. apakah benar begitu?

Ketika menjadi seorang entrepeneur, bukan berarti anda bisa tidur 10 jam per hari atau berlibur 3 hari dalam seminggu, rasanya tidak ada entrepeneur yang melakukan kegilaan semacam itu.

Fleksibilitas waktu seorang entrepreneur adalah bisa menentukan mau tidur jam 9 malam lalu bangun jam 1 pagi untuk melanjutkan pekerjaan yang ada, atau tidur jam 6 pagi dan bangun kembali jam 10 pagi. sama halnya dengan libur, dia bisa memilih berlibur hari senin dan bekerja fulltime diakhir pekan.

Bahkan setenar Bill Gates, Steve Jobs, Mark Z dan entrepeneur sukses dunia lainnya, mereka bekerja lebih banyak dari orang lain, mereka harus multi-tasking, ketika pegawainya sudah pulang, mereka masih memikirkan “konsep, strategi, investor, kompetitor dan pengembangan dimasa mendatang”, mereka tidak pernah pulang lebih dulu dibandingkan pegawainya.

Even Bill Gates dengan kekayaanya yang melimpah, tetap bangun pagi untuk berkativitas dan melakukan hal-hal keren lainnya, dia tidak tidur seharian loh.

Jadi fleksibilitas waktu seorang entrepeneur adalah dia bisa menggeser jam tidurnya, bisa menggeser waktu berliburnya namun bukan menambahkan porsinya.

Dan itu berlaku tidakn hanya untuk entrepeneur startup saja, bidang yang lain pun pasti sama kok. Rasa ownership pada akhirnya akan mengalahkan rasa capek dan pada akhirnya, waktu tidur singkat bukanlah kendala. Tujuan yang besar menanti mereka sebagai ganti atas pengorbanan terhadap waktu, uang dan tenaga yang sudah mereka kerahkan.

Yakin masih mau jadi entrepreneur?, kalau ragu anda kerja kantoran saja 08:00 – 17:00

Berhubung coklat hangatnya sudah habis, kita sudahi dulu sharing pagi ini…

Sunday

12

March 2017

0

COMMENTS

Darimana saya mendapatkan ide untuk Startup?

Written by , Posted in My Blog

webhomes.com

Walaupun malam sudah hampir berganti pagi, namun mata ini masih segar, ibarat toko belum mencapai target jadi pantang tutup. Akhirnya saya iseng keluyuran di depan komplek, mencari segelas kopi hangat sambil mendengarkan obrolan tukang ojek online yang masih setia menunggu panggilan pelanggannya, saya rasa mereka sedang membahas kasus “ojek online vs supir angkot”, ternyata tidak, mereka sedang membahas betapa jeniusnya ide ojek online ini, kata seorang tukang ojek, “kira-kira go-jek ini ditemukan dimana ya?”, hahaha, emangnya planet ditemukan hehehe.

Cukup sampai disini, obrolan satu jam terlalu panjang buat diposting disini…

Darimana saya mendapatkan ide untuk startup? dari problem!. Begitulah kata mentor saya dulu (sebut saja Mawar),  namun tampaknya jawaban seperti itu kurang memuaskan rasa penasaran audience, mengapa? karena mereka sedang dalam problemtidak bisa melihat problem“, kebanyakan calon-calon founder startup selalu bermimpi untuk memulai semuanya dari “ide brilian” mereka,  sampai disini sudah paham?

Jadi ide “problemnya” dapat dari mana dong??

 

KENALI DIRIMU

Alangkah lucunya ketika kita bermimpi untuk memberikan solusi kepada orang lain, sementara kita tidak mengenali masalahnya. memahami diri kita adalah mengenal kekuatan kita, tahu apa tujuan kita, bagaimana cara mendapatkan yang kita butuhkan dan selalu memiliki stok “semangat” yang tidak pernah habis.

 

DENGARKAN KELUHAN MEREKA, PAHAMI dan TAWARKAN SOLUSINYA

Sebuah aplikasi yang sudah bagus pun masih memiliki kemungkinan ditenggelamkan oleh new competitor, kita flashback sejenak melihat kejayaan Friendster, sebuah jejaring sosial yang trend dijamannya, namun tenggelam sejak kehadiran facebook. mengapa?  memahami orang lain adalah dengan menempatkan diri kita pada posisi orang tersebut. Seandainya saya diposisi mereka, apa yang akan saya lakukan? apa yang saya butuhkan? fitur apa yang saya inginkan?

 

JANGAN MENUNDA

Alkisah jaman dahulu terjadi sengketa antara Christopher Colombus dan Kepala Suku Indian, mereka saling klaim bahwa merekalah penemu benua Amerika, akhirnya sampailah mereka ke mahkamah internasional, kemudian sang hakim berkata “siapa yang bisa membuat telur ini berdiri, dialah penemu benua Amerika”. sang kepala suku indian mendapatkan kehormatan pertama, dia mencoba segala upaya bahkan sampai mengeluarkan asap khas indian, namun telur itu tetap tidak bisa berdiri tegak, sambil tertunduk lesu dia berkata “christopher, giliran lu bro”. dengan sedikit kelihaiannya, christopher colombus meremukkan sedikit bagian ujung telur dengan menekannya agak keras pada permukaan yang datar sehingga telur itu bisa berdiri seperti yang diharapkan sang hakim, tiba-tiba kepada suku indian itu berkata “saya juga bisa kalau cuma gitu doang”, namun sang hakim tetap pada pendiriannya, Christopher lah penemu benua Amerika. Kisah dongeng diatas mirip dengan cerita keseharian kita, diluar sana ada jutaan orang yang memiliki solusi (ide) yang sama untuk problem yang sama, tergantung siapa yang paling cepat melakukannya.

 

JANGAN TERJEBAK PADA SESUATU YANG USANG.

Dunia bergerak dengan dinamis, sangat dinamis malah. Tidak ada yang tak berubah, semua mengalami perubahan, begitu pula dengan keadaan di market. Dalam industri masa kini, pasti ada pemain besar yang pernah sukses dijamannya dan mungkin masih yang terbesar sampai saat ini, walaupun perlahan mulai ditinggalkan oleh usernya. coba pelajari kembali, startupstartup yang pernah hadir, pernah dikenal dan kemudian menghilang. Coba analisa dan lakukan improvement signifikan yang bisa melahirkan kembali (reborn) startup tersebut, menjadi lebih fresh, berwarna dan diminati banyak orang dan jangan lupa mengubah namanya, karena pelanggan selalu memesan pizza hangat walaupun resepnya sama dengan pizza dingin yang dibuat kemari sore.

 

FOKUS PADA KEBUTUHAN YANG NYATA

Seorang pencari kerja sebenarnya tidak membutuhkan website yang memposting pekerjaan/job, dia hanya ingin dipekerjakan secepat mungkin, bukan diperlihatkan betapa banyaknya lowongan pekerjaan di website tersebut. Bila anda bisa mengatasi masalah ini, maka semua situs lowongan kerja akan tutup karena tidak ada lagi yang mau menjadi penggunanya. Semua akan berpindah pada solusi yang anda tawarkan, anda berminat merekrut mereka menjadi user anda?? bila YA, mulailah memikirkan solusinya.

 

HARUS BANYAK PENGGUNANYA

Anda jomblo? itu masalah anda, coba tanyakan orang yang sudah berkeluarga atau yang sudah memiliki pasangan, apakah jomblo jadi masalah mereka? begitulah ketika kita melihat problem, haruslah menjadi problem banyak orang, why? agar solusi yang kita tawarkan banyak penggunanya dan akhirnya memberikan dampak yang besar. Bila anda berhutang IDR 100 Juta ke sebuah Bank dan tidak sanggup melunasinya, maka itu akan jadi masalah anda, namun bila hutang anda IDR 1 Triliun, maka itu akan jadi masalah bersama (bank dan anda).

 

BUATLAH SEDERHANA

Teknologi itu untuk mempermudah hidup manusia, demikian halnya solusi dari sebuah problem, harus membantu kita dalam banyak hal, semakin dipermudah dan dibuat nyaman. Hanya untuk register saja sudah susah, anda yakin orang masih akan berminat pada solusi anda? tunggu saja sampai ada yang menirunya dan membuat registrasinya menjadi sederhana, semua potensi yang sudah didepan mata tersebut, akan lenyap seketika.

 

ANDA TIDAK SENDIRIAN

Yakin startup anda tidak sama dengan orang lain? oke lah dalam aplikasi dan gameplay nya original, tapi solusinya apakah tidak mirip dengan startup lain? hanya persoalan waktu saja sampai mereka yakin untuk menambahkan fitur serupa dan “buuummm”, anda cuma kebagian serpihan ledakannya. Kenali dimana anda sedang bertempur, siapa lawan anda dan seperti apa peta kekuatan mereka, tapi ingat jangan fokus pada kekuatan lawan, fokuslah pada startup yang sedang anda buat. Saya hanya berkata “kenali lawan” bukan “mengamati lawan” apalagi “sibuk memikirkan lawan” atau “baper terhadap lawan”.

 

Ayam sudah berkokok walaupun belum sampai dua kali seperti didalam Kitab Suci, matahari akan segera terbit dari ufuk timur,  dan kasur sudah menunggu, semoga kalian mendapatkan ide dalam melihat problem, ubahlah diri kalian maka dunia akan ikut berubah. Selamat Tidur.

Saturday

7

January 2017

0

COMMENTS

Startup : Validasi Saja Tidak Cukup

Written by , Posted in Idea Projects, My Blog

Happy New Year 2017, rasanya baru kemarin saya merasakan tahun 2015, kemana hilangnya tahun 2016?

Sudahlah, tidak usah dibahas…. mari kembali ke topik tulisan pertama ditahun 2017 ini.

 

Sejak awal pertengahan 2009, istilah Startup (perusahaan rintisan) sudah mulai merambah ke indonesia, menjadi topik yang banyak diperbincangkan namun cukup sulit dicari seperti apa wujudnya. Saya belajar tentang startup pertama kali melalui Founder Institute dari silicon valley (sekitar 2010/2011).

Mulai tahun 2014, barulah startup benar-benar booming, setiap ada semintar atau event startup, hampir dipastikan penuh dengan anak-anak muda yang memiliki ambisi untuk menjadi entrepreneur, mempunyai mimpi besar untuk mengubah dunia, ingin menuangkan semua ide dan ego demi mencapai tujuan sempurna, yakni bermanfaat bagi orang banyak. Suasana diruang seminarpun tak ubahnya seperti seperti digedung dewan, riuh dan meriah dengan obrolan bagaimana membuat MPV, survey & kuesioner, validasi, iterasi, pivoting, bisnis model kanvas, customer segment, memilih mentor, venture capital, investor dan masih banyak lagi.

Namun pada prakteknya, banyak pula yang tidak menuai manfaat dari implementasi konsep-konsep tersebut, mungkin ada yang sudah pernah membuat bisnis model kanvas sampai validasi dibawah naungan venture capital, namun tetap saja tidak start, apalagi sampai up. Mungkin juga sudah ada yang pernah melakukan survei ke ratusan calon customer, namun ketika launching produk, anda dibuat keringat dingin, karena hasilnya tidak seperti yang dibayangkan didalam survei. Terkadang, survey bisa menjadi media pembohong paling mematikan, mengapa saya berkata demikian? mungkin sebagian responden merasa kasihan kalau memberikan penilaian jelek, mungkin sebagian lagi merasa tidak peduli sehingga asal menjawab, mungkin juga responden anda takut dikira bodoh dan terkesan tidak berpendidikan yang akhirnya menggiring dia untuk menjawab bagus semua (yang menunjukkan tingkat ketertarikan tinggi) atau ada juga yang sekedar beramal ketika sedang mengisi kuesioner, namanya amal kan harus yang bagus. Hasilnya, mimpi anda terbang tinggi dan dihempaskan ke bumi.

Disisi lain, tidak jarang juga ada calon customer yang mengatakan tertarik untuk membeli produk anda (ketika masih berupa prorotype), namun tak kunjung membeli ketika produk komersilnya sudah diluncurkan. mengapa?

Hal ini tidak hanya terjadi didunia startup, perusahaan dunia sebesar Coca-Cola (Coke) dan McD (Arch Deluxe) pernah gagal dalam memasarkan produknya, meskipun telah melewati serangkaian uji rasa yang ketat. Dalam validasi market, orang-orang di jalur konvensional menyebutknya dengan istilah market attractiveness, dimana lebih banyak berfokus pada pemikiran linear dan rasional dengan hipotesis bahwa kualitas, fitur, harga dan manfaat adalah hal yang paling menentukan penerimaan pasar, namun faktanya pasar lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran irasional, banyak anomali pasar yang belum bisa dijelaskan melalui teori ekonomi modern. Masih ingat game pokemon, kenapa booming beberapa waktu lalu?

Kadang pasar itu aneh dan sangat tidak rasional, namun itulah pasar adanya. lalu masih perlukah validasi? tujuan awal validasi yang diajarkan dalam paham customer development hanyalah rangkaian upaya untuk meminimalis resiko, bukan menghilangkannya.

Kesimpulannya : Anda perlu mencari The Experiencer, yakni orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional, kemampuan empati yang tinggi serta jiwa inovatif untuk membayangkan, menguji dan merancang pengalaman (experience) produk sebelum sampai ke konsumen. Why? sebelum manusia membeli/menggunakan sebuah produk, keputusannya akan dipengaruhi oleh pertimbangan irasional, jadi harus ada orang yang membangun jembatan irasional antara produk dan konsumen, kita menyebutnya Tween, cara untuk memastikan sampainya value ke tangan konsumen yang tepat melalui pengalaman yang tepat.

Saturday

1

October 2016

0

COMMENTS

Bangun mas bro, sudah siang. Yukk Startup lagi!

Written by , Posted in My Blog

Rasanya sudah hampir 9 bulan vakum dari dunia startup, dunia yang penuh mimpi, ambisi, emosi, dan tantangan. Selama itu pula saya vakum mengajar sebagai dosen, rasanya seperti dapat cuti tahunan setahun full hahaha. Aktivitas sehari-hari saya isi dengan hobi, memulai S3, bekerja sebagai profesional dan mencari potongan puzzle yang hilang.

2 minggu yang lalu, semester baru di Binus akan segera dimulai, berhubung tidak kebagian kelas di weekend, rasanya ingin melanjutkan cuti kembali. Setelah schedule tersusun rapih sampai desember mendatang, tiba-tiba telepon berdering dan sepertinya itu bukan nomor yang asing lagi. Yuuppp, benar saja, kampus memanggil kembali, ada kelas yang “kebetulan” available di hari sabtu, hmmm pilihan yang sulit ditengah-tengah jadwal yang sudah tersusun rapih. Tetapi pada akhirnya, saya harus kembali mengajar, kampus memanggil maka harus dijawab. Bukankah itu tujuannya menjadi dosen?

Kembali ke persoalan startup, walaupun saya vakum dari semua rutinitas startup, bukan berarti saya vakum membimbing anak-anak startup. ada beberapa kelompok startup (termasuk thesis) yang tetap saya bimbing, mereka memang dibawah bendera Inkubator yang berbeda-beda, namun karena mereka yang mencari saya, ya sudahlah, ajarin saja, sharing saja, guide saja, tohh experience yang saya punya selama ini gak akan jadi duit juga kalau dipendam, mending dibagikan, siapa tau lebih banyak yang tersesat? hahaha.

Dan beberapa kali pernah bertemu dengan Investor dan Startup Founder yang sudah punya nama, mereka bertanya “kenapa saya berhenti dari dunia startup“, saya cuma jawab “saya gak berhenti, cuma lagi jalan santai saja, bernafas lebih teratur, mengamati setiap jalan yang dilewati dengan perlahan, dan mencoba menganalisa apa yang terjadi 5 tahun yang lalu ketika saya masih mendirikan startup, dimana kesalahan startupnya? kurang mentor kah? apakah investornya? jangan-jangan produknya yang busuk atau memang timnya yang harus dibongkar pasang?.

Membangun startup bukan hanya perkara ide, ambisi dan tujuan mulia agar memberikan manfaat bagi orang lain, tantangan berat selalu bersembunyi dibalik sebuah startup, disinilah emosi mulai memainkan perannya.

Ada banyak orang yang menyerah ketika membangun startup nya, mana kala rencana yang disusun tidak berjalan sesuai rencana, investor yang tak kunjung mengucurkan dana lanjutan, partner yang tak kungjung mau berkolaborasi dan client yang belum memberi kepastian kontrak kerjasama. Semua permasalahan itu tampak seperti jamur yang tumbuh dimusim penghujan.

Hal yang lebih membuat panik lagi ketika kita tahu bahwa cashflow sudah menipis, ibarat kendaraan dengan tujuan perjalanan masih panjang, bahan bakar menipis, mungkinkah sampai ke tujuan? bisa sih kalau di dorong (pake uang sendiri) tapi akan sangat lama atau bahkan bisa membunuh semua penumpangnya.

Dalam konsisi seperti itu, kadang setan juga menyamar sebagai malaikat yang berbisik dengan lembut “sudahlah, ganti saja tujuannya, tuhh lihat kendaraan sebelah masih ada yang kosong, ikut itu saja.”.

Hasilnya bisa ditebak, kebanyakan orang akan menyerah dan sedikit lainnya berusaha mencoba bangkit dengan mencari pembenaran untuk menghibur (memotivasi) dirinya. Seperti ending sebuah film boxoffice, selalu saja ada yang berhasil, yakni ketika founder dan timnya menemukan alasan kuat mengapa startup itu dibangun, alasan yang bermakna bagi seluruh tim dengan harapan akan berdampak juga bagi orang lain.

Ayolah anak muda, bangkitkan kembali ide-ide gilamu, bakar lagi emosi yang sudah mulai padam dan pacu ambisi mu melampaui batas ketidakpercayaan orang lain atas rencana gila mu, ide yang hebat itu jangan hanya disimpan disudut ruang impian kita, jangan biarkan ide itu tak disentuh, lalu berdebu, berkarat dan kemudian dilupakan. Percayalah, bukan hanya anda yang punya ide seperti itu, ada jutaan orang yang memimpikanya, namun tidak ada yang berani untuk memulainya.

Bangun…bangun dan mulailah membuatnya.

 

Note : Maaf ya, gambar dan judul tidak sinkron, namanya #September #Flag

 

Monday

9

November 2015

0

COMMENTS

Tidak ada yang mengharuskan anda untuk bekerja.

Written by , Posted in My Blog

Tak seorang pun mengharuskan anda bekerja. bukankah itu pilihan yang anda buat?

Umumnya, kita rata-rata hanya memiliki kehidupan selama 27,350 hari selama menumpang diplanet ini. dan 10,575 diantaranya adalah hari kerja. dan itu adalah angka minimal. 

 

Jika hari-hari itu dihabiskan untuk melakukan sesuatu yang tak anda sukai, bersama orang-orang yang tak anda sukai dan berada di lingkungan yang membuat anda tertekan, bukankah itu keterlaluan?

 

Bagi sebagian besar orang, bekerja adalah suatu keharusan. kita perlu menghasilkan uang untuk menyediakan papan dan pangan (dan tentu saja update gadget terbaru). uang membuat dunia berputar, dan tanpanya kita dikerdilkan. tak ada uang berarti tak ada pilihan, tak ada pilihan berarti tak ada kesenangan dan ketika tak ada kesenangan berarti kehidupan yang sangat membosankan. setuju?

 

Jebakan seperti itu bukan hanya uang saja. ambisi, cita-cita, rasa bangga dan identitas kita juga dibelenggu oleh rantai pekerjaan. “Ohh teman saya sudah direktur, sementara saya cuma supervisor, males reunian ahh, malu.” bagaimana anda menjadi pahlawan hidup bagi diri anda jika anda menghabiskan waktu minimal 10 jam sehari bagi orang lain. mulai paham?

 

Bagi kita, bekerja itu seperti candu. hal itu memberikan kita kesuksesan kecil, persahabatan, pertumbuhan, kekuasaan, pengakuan. semua itu terasa menakjubkan dan sebelum kita menyadarinya, kita menginginkan lebih banyak lagi.

 

Namun dibalik itu semua, banyak diantara kita yang sebenarnya tersiksa oleh pekerjaan, merasa dihantui dan tidak enjoy menjalankannya. Sekali lagi, ini bukanlah masalah dari pekerjaan. karena pekerjaan tidak memiliki kesadaran sendiri, tidak bisa berdiri sendiri, pekerjaan adalah entitas yang selalu terhubung dengan kita. maksud lainnya bahwa pekerjaan itu adalah kita sendiri.

 

Jadi masih tetap ingin bekerja?

Bila itu pilihannya, anda tinggal membayangkan saja bahwa kantor itu adalah tempat kita kumpul-kumpul bersama dengan teman se-profesi, menunggu sore sambil melakukan sesuatu hal, kita hanya perlu melakukannya selama 25 hari, kemudian di hari ke-26 kita akan memperoleh uang direkening kita. ajaib bukan?

 

Cobalah bicara dengan para milioner, aktor/aktris terkenal, fotografer handal atau bahkan chef ternama. anda akan menemukan fakta bahwa setiap pekerjaan memiliki sisi “tidak enak” dan selalu begitu, tidak ada yang namanya pekerjaan yang sempurna seperti dinegeri dongeng.

 

Kita hanya perlu memahat pekerjaan kita sedemikian rupa agar pekerjaan mendukung kesuksesan kita dan memberikan hasil yang sebaik mungkin bagi kita. namun yang tidak kalah penting, kita perlu memahat diri kita sedemikian rupa sehingga cocok dengan pekerjaan kita.

 

Selamat memahat dan selamat bekerja!!

 

 

Credit for : Chris B

Image source : Here

About ROLLES HERWIN – Operational Development | Startup Development | Teaching

The life of a project, from conception to execution, is a passion of mine. From a simple Tweet to an entire undertaking of a new department, I enjoy it all.

I am passionate about product developmentstartup development, creating product from concept and teaching.

I can be reached at hello@rollesherwin.com or +62.813.30.632.632 .